아무 이유 없이, 아무 조건 없이 사랑 하라…( Amu iyu eopsi, amu jogeon eopsi sarang hara …! )
” Mencintailah tanpa alasan apapun dan tanpa syarat apapun “
“ Bagaimana menurutmu judul puisi ini Izza..? “Thayibah meminta pendapat pada Izza , sahabatnya tentang puisi yang akan di buatnya.
” menurutku bagus di kata kurang bagus di makna “ jawabnya.
” Kok bisa, kenapa…? “
” Cinta itu sebab akibat, dan sebab itu butuh alasan, bagaimana bisa cinta tanpa alasan…? ”
” yah Izza…. Cinta itu semakin dirasa, maka semakin tidak mengerti alasannya, semakin dalam cinta alasan semakin memudar, syarat semakin tak diperlukan , itulah sebabnya orang bilang ‘ love is blind “.
Keduanya terus beradu argumentasi. Keduanya sering memaksakan alasannya masing-masing. Thayibah yang sedang terpesona untuk belajar sastra,selalu melihat masalah dari pandangan sastra sedang Izza, akhir-akhir ini tertarik belajar filsafat. Maka cara pandangnya sering berbeda, namun keduanya nampak semakin akrab.
Siang itu, mereka berjalan menyusuri rindangnya pohon-pohon di jalan setapak pulau Nami ( nami seom ). Sejenak berhenti, berteduh dan menikmati angin yang berhembus dari danau.
” Ayib… dalam pandanganmu, Nami ini seperti apa…?
Thayibah tidak langsung menjawab, berpikir sejenak…
”Menurutku Nami adalah kumpulan kata-kata , Nami adalah rangkaian kata sastra. Indah, sejuk , cinta, air, angin, perahu dan keteraturan itulah Nami, dan semuanya karya sastra. Winterreise (겨울 나그네) , Riverside Song Festival (강변 가요제) dan siapa tidak tahu tentang Winter sonata ? . Seringkali sebuah karya besar terlahir dari tempat yang luar biasa. Dan inilah Namiseom. Klo menurutmu…?
” Bagiku Nami adalah pulau kegagalan. Nami adalah kubur kegagalan. Namiseom adalah nisan, dari seorang jendral muda Nami ( 남이 장군). Winter sonatapun adalah cerita tentang kegagalan cinta, dan Nami tidak lebih seperti telaga wurung di Magetan itu, yang memberikan mitos bahwa siapa yang membawa sesuatu dari Nami ke rumahnya, maka menunai kesialan… bagaimana kamu bisa katakan ini sebuah karya sastra, bagaimana kau bilang ini sebuah keindahan yang melebihi keindahan wujudnya.. apakah kegagalan itu keindahan ? bantah Izza
” Dunia sastra tidak mengenal kegalalan Izza… kesedihan, tangis, perpisahan itu bisa terangkai dalam puisi, bisa tercipta sebuah novel, bisa menjadi tema sebuah film… baik bahagia atau kesedihan, kegagalan atau kesuksesan itulah tema kehidupan. Nami Island bagiku sebuah teks kehidupan, teks keindahan.” Thayibah terus membantah.
Berjalan menyusuri pulau yang hanya 43 km2 itu membuat keduanya tak merasa bahwa hari telah beranjak sore, saat keduanya harus meninggalkan pulau mungil itu.
” ayo cepetan, kita harus antri ferry. Lagian juga kita belum tentu langsung dapat taxinya “ iya, tapi sebenarnya aku masih ingin menikmati sore, atau nanti suatu ketika bisa bermalam di pulau ini…tapi harga hotelnya kok mahal-mahal ya Izza.. “ jawab Thayibah seperti belum ikhlas meninggalkan pulau Nami.
” Yah nanti kalau Ayib bulan madu, liburannya ke sini lagi yang lebih lama “
” sebentar Izza, aku ingin meninggalkan tulisan di sini :
사랑을 알지못했을때에는 기다림이라는 것을 알지못했습니다. ( sarangeul alji mothaeseulddaeneun gidarim iraneun geoseul alji mothaeseumnida )
” Ketika kita tidak mengetahui cinta , maka kita tidak tahu arti dari kata penantian “
aku tulis di bawah pohon ini, biarlah terhapus oleh waktu, tersiram hujan dan memudar oleh cahaya matahari, karena rentang itulah penantian .

Nami island
Tidak ada komentar:
Posting Komentar